HOME              PROFIL          ARTICLE         NEWS            IT - KOM          GALERY




Silahkan Tulis Pesan Anda

Total Visits: 40337

Senin, 1 Januari 2005
Membangun Potensi Umat Yang Hilang
Penulis/Sumber : Drs. F. Aminuddin Aziz, MM
Kategori: Khutbah - Dibaca: 1017 kali



Hadirin jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah. Sebulan sudah kita lalui media introspeksi melalui puasa, marilah kita saling memafkan atas lisan yang tak terjaga, janji yang diabaikan, hati yang berprasangka dan sikap yang tidak berkenan dengan tulus tanpa mengungkap sesuatu yang menyakitkan dikemudian hari. Saat ini, detik ini, kita merayakan kemenangan atas upaya menahan nafsu dan merasakan betapa tidak nyamanya perasaan lapar. Namun sampai disitukah perjalanan rohani kita sebagai manusia berhenti ? Tentu saja tidak. Masih banyak yang harus kita renungkan untuk kejayaan umat Islam terutama yang berkenaan dengan penciptaannya.



Allohu Akbar 3x Manusia diciptakan Tuhannya dengan sebaik-baik ciptaan (khoirul umah),artinya bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia dengan segenap potensi positif, hanya saja kadang manusia tidak menyadari hal itu. Kita kadang menyalahkan kebodohan, kemiskinan, ketidak tersediaan waktu, keterbatasan kesempatan dan masih banyak hal lain dijadikan dalih pengakuan atas segala kegagalan. Yang dapat kita lihat diseantero dunia ini, tampak sekali bahwa orang/negara Islam penuh dengan wajah yang carut marut, seperti pertikaian antara sekte, kemiskinan, keterbelakangan, saling membunuh, tidak bersatu dan banyak lagi yang lain, dan kita tidak segan-segan menyalahkan orang atau bahkan negara lain. Padahal bisa jadi, sesungguhnya hal itu datang dari diri kita sendiri yang kadang kita jarang menyadarinya. Di saat hari yang fitri ini, mari kita berintrospeksi pada diri kita, untuk melihat persoalan umat yang ada saat ini.



Allohu Akbar, Alohu Akbar, Allahu Akbar

Apa sesungguhnya penyebab umat Islam terbelakang dalam berbagai hal,

1. Kita memiliki kecenderungan untuk menjadi ?IMPERIALIS INTELEKTUAL?. Artinya bahwa kita sangat sering merasa pendapat kita paling benar dan ingin merubah pandangan orang lain sehingga sejalan dengan kita. Pendapat orang lain dianggap salah semua dan pendapat diri sendiri yang paling benar. Ini menjadi pemicu perpecahan diantara kita. Bahkan kita kadang menggunakan kekuatan fisik untuk mempersamakan pemahaman, jadi lengkaplah kita sebagai pemangku imperalis. Padahal sesungguhnya potensi diri bisa dibangun, ketika kita menemukan perbedaan dan perbedaan itu dibangun secara konstruktif akan membentuk pribadi yang unggul dalam laku, yang pada akhirnya akan membentuk manusia yang berbudi luhur. Kebenaran yang hakiki hanya ditangan Tuhan, kebenaran yang ada dalam alam fikiran kita masih bersifat relatif. Tidak apalah berbeda jika mampu mengentaskan kemiskinan, tidak apalah beda jika untuk menemukan teori baru, tidaklah apa berbeda jika mampu untuk meningkatkan keimanan. Jika manfaat perbedaan dirasakan tidak ada, alangkah baiknya jika kita bersama membangun persatuan, karena sesungguhnya umat Islam miskin persatuan. Perbedaan yang harus dibangun adalah perbedaan yang dapat menghantarkan umat pada kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan tercermin dalam kesalehan indifidu dan kesalehan kolektif.



2. Tidak Memiliki Imam/pimpinan central. Kelemahan kita tidak mempunyai pemimpin yang dapat dipatuhi oleh semua golongan. Kita tercabik-cabik kedalam beberapa golongan dan berjalan sendiri-sendiri. Ketika kita digelisahkan oleh perilaku pornoaksi dan pornografi, saudara kita menolak dengan berbagai kekuatan bahkan dengan aksi turun kejalan.

Ketika sebagian umat Islam sedang mempejuangkan nilai-nilai syariah, sebagian umat Islam

menyerang tanpa henti.

Maka sangatlah wajar ketika alampun marah pada kita dan bahkan mengecoh kita, agar kita sadar pada bangunan persatuan.

Ketika kita berkonsentrasi pada gunung Merapi DIY, alam menyapa kita lewat tsunami di pinggir kota bantul. Ketik kita bersiap sebagai bangsa untuk menghadapi tsunami di pantai padang dan banten kita justru disapa oleh tsunami di Cilacap dan pangandaran.

Ketika kita berharap pengeboran lapindo brantas di sidoarjo menghasilkan minyak, alam memberi lumpur panas dan racun.

Allah berpesan alam surat asshof ayat 4:

Sesungguhnya Allah mencintai orang ?orang yag berjuang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Kita juga sulit diatur, kita lebih menginginkan untuk mengatur, kita juga sulit kompromi, persatuan diabaikan demi kepentingan agama kelompoknya. Semua dari kita ingin memimpin dan tidak mau dipimpin, akibatnya menjadi rancu, dan arah umatpun terpecah menjadi beberapa bagian yang sulit untuk dipersatukan karena kepentingan panatisme demi menjaga prestise golongan atau keleompok.



3. Meninggalkan Al Quran. Jika kita sepakat bahwa alquran itu landasan hidup, maka berapa kali sehari kita membacanya, jika tiap bulan maka dari yang kita baca berapa ayat yang kita fahami makna pesan-pesan tuhan itu, dari yang kita fahami maknanya berapa yang kita laksanakan ?. Ataukah sesungguhnya kita sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai umat Islam, karena kita tidak pernah membaca, memahamai apalagi mengamalkan nilai-nilai yang kita anggap sebagai pedoman dalam berkehidupan. Kita harus sepakat bahwa mulai saat ini, mulai dari diri kita sendiri, menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup. Kita baca dan kita gali makna-makna di dalamnya dan kita implementasikan dalam kehidupan ini, karena ini merupakan hal yang fundamental untuk menuju masyarakat yang berkeadaban.



4. Kepekaan sosial rendah. Kemiskinan dewasa ini sudah menjadi permasalahan global. Kesadaran masyarakat dalam berzakat dan pengelolaan zakat yang profesional diharapkan mampu menjadi alternatif solusi untuk mengatasi kemiskinan. Jika dari produk domestik bruto Rp 1.200 triliun diambil separohnya berasal dari umat Islam menjadi 600 triliun saja kali 2,5 persen , maka akan terkumpul Rp. 15 Triliun. Ini nilai yang sangat besar dan akan mampu untuk membangun solidaritas sosial dan mampu mengentaskan masyarakat strata bawah. Pesoalannya adalah membangun kesadaran akan infak, zakat, shodakoh tidaklah mudah. Masing-masing kita cenderung untuk rakus dan berlomba-lomba untuk memperkaya diri, kita kadang lupa dan acuh tak acuh kepada saudara kita yang kurang beruntung. Andai saja kita lebih peduli dan mau berkontribusi untuk umat, niscaya banyak hal yang dapat kita lakukan.



5. Tidak bekerja keras dan pasrah pada takdir.

Dalam era globalisasi saat ini kita dituntut untuk terus menerus bekerja keras dan selalu berinovasi, sebab apabila kita berhenti satu detik saja untuk bernafas dan tidak bekerja , maka zaman akan menggilas kita dan kita akan tertinggal. Sebagai mana pesan Tuhan

Filosofi takdir, kalau boleh kita mengibaratkan itu seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah. Bila kita biarkan air itu tidak bisa naik dari tempat yang rendah ketempat yang tinggi, namun apabila kita berusaha dengan sekuat akal dan tenaga, kita akan dapat menaikan air dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, artinya takdir bisa dirubah dengan jalan ikhtiar. Begitu juga seperti burung bisa terbang. Pada dasarnya manusia tidak bisa terbang akan tetapi dengan akal, manusia kita bisa terbang seperti burung.



Allahu Akbar, Jamaah yang dimuliakan Allah

Oleh sebab itu marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan potensi umat demi membentuk khoerul umah dan harumnya Islam ditanah air ini dengan mencoba menghilangkan beberapa penyebab kecenderungan negatif yang ada, merdekakan umat dengan memberikan kebebasan berfikir yang konstruktif yang mengarah pada kemajuan dan persatuan umat Islam, memenej perbedaan yang ada dengan bingkai persatuan, rubahlah takdir dengan kreaifitas akal dan kerjakeras tanpa meninggalkan doa dan mari kita kembali jadikan Quran sebagai pedoman hidup kita dengan membaca memahami dan mengamalkan ajaranya . Semoga Allah selalu melindungi kita dari bahaya perpecahan, kemiskinan, dan kebodohan dan menjadikan umat Islam sebagai rohmatan lil?alamin. Wawlohu?alam.



WASSALAMU?ALAIKUM WR. WB.

ARTIKEL TERKAIT

0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama
Website
Komentar
Masukkan Kode ini
(Tulis dengan Hurup besar)